65 / 100

Google membangun pusat data di Indonesia, serta sediakan 150 ribu laboratorium pelatihan. Selain itu, ada paket layanan untuk ribuan sekolah di Jakarta.

Google meluncurkan pusat data (data center) di Jakarta pada hari ini (24/6). Untuk mendukung fasilitas ini, perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) itu pun menyediakan 150 ribu laboratorium untuk pelatihan terkait komputasi awan (cloud).

“Kami berkomitmen mengasah kemampuan dan penyediaan tenaga kerja cloud di Indonesia,” kata Country Director Google Cloud Indonesia Megawaty Khie saat konferensi pers secara virtual, Rabu (24/6). “Kami akan kirimkan 150 ribu laboratorium pelatihan tahun ini.”

Selain pelatihan, peserta akan mendapat akses Google Cloud Platform (GCP) gratis. Mereka juga akan memperoleh beragam program inisatif kesiapan karier. “Setelah pelatihan, kami berikan sertifikasi,” kata Mega. Perusahaan juga bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar Digital Talent Scholarship (DTS).

Program ini untuk mengasah kemampuan talenta digital Indonesia terkait analisis big data, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keamanan siber, Internet of Things (IoT) dan mesin pembelajar (machine learning).

Selama pandemi corona, perusahaan juga menyediakan layanan G Suite for Education bagi ribuan sekolah di Jakarta. Layanan kelas belajar secara online ini memuat informasi, pelatihan, dan alat-alat yang membantu para pendidik mengajar dari rumah. Ke depan, layanan G Suite for Education akan menyasar jutaan pendidik dan siswa secara nasional.

G Suite merupakan layanan terpadu berbasis cloud. Pada kesempatan berbeda, Menteri Kominfo Johnny G Plate mengatakan, hadirnya pusat data dari Google bisa memperkokoh keamanan dan privasi data di Indonesia. “Pusat data juga bisa meningkatkan kemajuan ekonomi digital dan mempertajam penerapan berbagai macam teknologi,” kata dia.

Johnny juga berharap ada transmisi penerapan teknologi dari adanya pusat data Google di Indonesia kepada talenta digital lokal. Dengan begitu, mereka dapat mendukung pengembangan sektor e-commerce, teledukasi hingga kesehatan. Apalagi Indonesia memang membutuhkan banyak talenta digital. Data McKinsey & Company menunjukkan, suplai dan permintaan talenta digital di Tanah Air tidak seimbang.

Indonesia kekurangan 600 ribu SDM digital setiap tahunnya. McKinsey & Company pun memproyeksikan Indonesia kekurangan talenta digital 9 juta pada 2030.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan (katadata.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here